tugas 3

FRANCHISE

KELAS            : 1EB01

FAKULITAS   : Ekonomi Akuntansi

NAMA            : SUCIATI RUKMINI (26210711)

FUNGKY PRATIWI              (22210899)

VINA AFRYANI                  (28210375)

Fakulitas Ekonomi Universitas Gunadarma

2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur Kami panjatkan kehadiarat Allah SWT karena berkat limpahan rahmat dan karunianya Penulis dapat menyelesaikan tugas Paper Pengantar Bisnis dengan baik dan lancar tepat pada waktunya. Paper ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah Pengantar Bisnis dan untuk mengetahui perkembangan franchise di dunia khususnya franchise Burger King di Indonesia. Penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu telah memberikan bantuan sepenuhnya dalam penyelesaian paper ini. Penulis menyadari didalam penyusunan paper ini tidaklah sempurna masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan dalam penulisannya. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun agar penyusunan paper berikutnya akan lebih baik. Penulis berharap semoga paper ini dapat bermanfaat bagi Penulis sendiri dan khususnya bagi semua pihak.

Jakarta ,10 Oktober 2010

PENDAHULUAN

Franchising (pewaralabaan) pada hakekatnya adalah sebuah konsep pemasaran dalam rangka memperluas jaringan usaha secara cepat.  Dengan demikian, franchising bukanlah sebuah alternatif melainkan salah satu cara yang sama kuatnya, sama strategsinya dengan cara konvensional dalam mengembangkan usaha. Bahkan sistem franchise dianggap memiliki banyak kelebihan terutama menyangkut pendanaan, SDM dan managemen, kecuali kerelaan pemilik merek untuk berbagi dengan pihak lain. Franchising juga dikenal sebagai jalur distribusi yang sangat efektif untuk mendekatkan produk kepada konsumennya melalui tangan-tangan franchise.

Di Indonesia franchise dikenal sejak era 70an ketika masuknya Shakey Pisa, KFC, Swensen dan Burger King.  Perkembangannya terlihat sangat pesat dimulai sekitar 1995. Data Deperindag pada tahun 1997 mencatat sekitar 259 perusahaan penerima waralaba di Indonesia . Setelah itu, usaha franchise mengalami kemerosotan karena terjadi krisis moneter.  Para penerima waralaba asing terpaksa menutup usahanya karena nilai rupiah yang terperosok sangat dalam. Hingga tahun 2000, franchise asing masih menunggu untuk masuk ke Indonesia . Hal itu disebabkan kondisi ekonomi dan politik yang belum stabili ditandai dengan perseteruan para elit politik. Barulah pada tahun 2003, usaha franchise di tanah air mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Franchise pertama kali dimulai di Amerika oleh Singer Sewing Machine Company, produsen mesin jahit Singer pada tahun 1851. Pola itu kemudian diikuti oleh perusahaan otomotif General Motor Industry yang melakukan penjualan kendaraan bermotor dengan menunjuk distributor franchise pada tahun 1898. Selanjutnya, diikuti pula oleh perusahaan-perusahaan soft drink di Amerika sebagai saluran distribusi di AS dan negara-negara lain. Sedangkan di Inggris waralaba dirintis oleh J Lyons melalui usahanya Wimpy and Golden Egg pada dekade 60an.

Definisi Franchise
Masing-masing negara memiliki definisi sendiri tentang waralaba. Amerika melalui International Franchise Association (IFA) mendefinisikan franchise sebagai hubungan kontraktual antara franchisor dengan franchise, dimana franchisor berkewajiban menjaga kepentingan secara kontinyu pada bidang usaha yang dijalankan oleh franchisee  misalnya lewat pelatihan, di bawah  merek dagang yang sama, format dan standar operasional atau kontrol pemilik (franchisor), dimana franchisee menamankan investasi pada usaha tersebut dari sumber dananya sendiri.

Sedangkan menurut  British Franchise Association sebagai garansi lisensi kontraktual  oleh satu orang (franchisor)  ke pihak lain (franchisee) dengan:

  • Mengijinkan atau meminta franchisee menjalankan usaha dalam periode tertentu pada bisnis yang menggunakan merek yang dimiliki oleh franchisor.
  • Mengharuskan franchisor untuk melatih kontrol secara kontinyu selama periode perjanjian.
  • Mengharuskan franchisor untuk menyediakan asistensi terhadap franchisee pada subjek bisnis yang dijalankan—di dalam hubungan terhadap organisasi usaha franchisee seperti training terhadap staf, merchandising, manajemen atau yang lainnya.
  • Meminta kepada franchise secara periodik selama masa kerjasama waralaba untuk membayarkan sejumlah fee franchisee atau royalti untuk produk atau service yang disediakan oleh franchisor kepada franchisee.

Sejumlah pakar juga ikut memberikan definisi terhadap waralaba.  Campbell Black dalam bukunya Black’’s Law Dict menjelaskan franchise sebagai sebuah lisensi merek dari pemilik yang mengijinkan orang lain untuk menjual produk atau service atas nama merek tersebut.

David J.Kaufmann memberi definisi franchising sebagai sebuah sistem pemasaran dan distribusi  yang dijalankan oleh institusi bisnis kecil (franchisee) yang digaransi dengan membayar sejumlah fee, hak terhadap akses pasar oleh franchisor dengan standar operasi yang mapan dibawah asistensi franchisor.

Sedangkan menurut Reitzel, Lyden, Roberts & Severance, franchise definisikan sebagai sebuah kontrak atas barang yang intangible yang  dimiliki oleh seseorang (franchisor) seperti merek yang diberikan kepada orang lain (franchisee) untuk menggunakan barang (merek) tersebut pada usahanya sesuai dengan teritori yang disepakati.

Selain definisi menurut kacamata asing, di Indonesia juga berkembang definisi franchise. Salah satunya seperti yang diberikan oleh LPPM (Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen), yang mengadopsi dari terjemahan kata franchise. IPPM mengartikannya sebagai usaha yang memberikan laba atau keuntungan sangat  istimewa sesuai dengan kata tersebut yang berasal dari wara yang berarti istimewa dan laba yang berarti keuntungan.

Sementara itu, menurut  PP No.16/1997  waralaba diartikan sebagai perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan pihak lain tersebut, dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan atau jasa. Definisi inilah  yang berlaku baku secara yuridis formal di Indonesia.

BURGER KING DI AMERIKA

Burger King adalah restoran hamburger yang didirikan pada tahun 1954 oleh James McLamore dan David Edgerton dan mulai berekspansi ke luar Amerika pada tahun 1963. Restoran ini berpusat di Miami-Dade County , Florida . Restoran ini pada awalnya juga pernah menggunakan sistem franchise untuk mempromosikan produknya di masyarakat. Sebelum Burger King berdiri mulanya restoran ini adalah sebuah cabang restoran yang bernama Insta-Burger King yang didirikan oleh Kieth J.Kramer dan Matthew Burns. Restoran ini memiliki alat yang disebut insta-Broiler untuk memudahkan memasak daging untuk burger, dan dengan menggunakan sistem franchise kemudian restoran ini mulai menybar ke daerah lain Amerika.

James McLamore dan David Edgerton yang merupakan alumni dari Cornell University School of Hotel Administration mencoba untuk membuka gerai ista-Burger King di Miami-Dade area setelah mengunjungi restoran McDonalds di San Bernardo California . Alat insta-Broiler tidak lagi digunakan oleh James dan David pada saat itu, mereka menggantinya dengan flame broiler sebuah mesin pemanggang daging burger yang berbahan bakar gas. Kemunculannya di Miami-Dade sangat sukses sehingga usaha Burger King semakin berlanjut ke daerah lainnya di luar Florida .

Pada tahun 1955 Burger King yang dipimpin oleh James dan David telah beroperasi di 40 lokasi di seluruh Amerika. Hingga tahun 1961 Burger King mulai menjual lisensi franchise-nya kepada pengusaha yang berminat di Amerika Serikat dan saat itu juga nama restoran tersebut telah berubah menjadi Burger King Corporation.

Dari tahun 1961 sampai dengan tahun 1967 Burger King menjalankan sistem kepemilikan pribadi, namun setelah itu Pillsbury Company berhasil memiliki Burger King. Di bawah Pillsbury Company, Burger King berhasil membuka 274 restoran di seluruh Amerika Serikat. Di tahun 1973, Chart House, yang merupakan pemilik dari Burger King berhasil melebihi prestasi dari Pillsbury Company dalam memimpin dengan membuka 350 gerai pada waktu itu. Chart House mencoba menawarkan kerja sama dengan Pillsbury Company untuk menggabungkan keduanya menjadi perusahaan yang terpisah namun Pillsbury menolak. Hingga komunikasi antara keduanya menjadi tidak berjalan dengan baik.

Perjalanan Burger King di Amerika nampaknya tidak berjalan dengan lancar, berbagai polemik pada kepemimpinan perusahaan tersebut di era awal hingga akhir 90-an membuat restoran ini terancam bangkrut. Pendapatan yang diperoleh semakin menurun akibat isu menurunnya kualitas dari produk serta persaingan sesama restoran hamburger semakin ketat. Tercatat Wendy’s merupakan saingan terberat dari Burger King pada era millennium baru. Bangkrutnya Burger King diikuti dengan tutupnya restoran mereka di beberapa tempat di Amerika.

TPG Capital sebuah perusahaan berasosiasi dengan Bain Capital dan Goldman Sach Capital Partners menyetujui untuk membeli Burger King dari Diageo dengan harga $ 1,5 billion (USD). Kepemimpinan baru ini berusaha untuk merevitalisasi dan mereorganisasi perusahaan.serta merubah nama menjadi Burger King Brands sebagai perusahaan induknya.

Expansi Internasional

Burger King telah mencoba membuka cabang restorannya di luar Amerika pertama kali di San Juan , Puerto Rico pada tahun 1963. Namun, pembukaan gerai di Puerto Rico tidak mendapat tanggapan yang menarik dari dunia internasional. Tanggapan ini justru muncul ketika dibuka restotan Burger King di Kanada tahun 1969 pada saat kepemimpinan Pillsbury. Setelah Kanada lalu menjamur ke benua lainnya seperti, di Eropa dengan Madrid sebagai kota pertamanya pada tahun 1972,  pada tahun 1982 giliran Asia Timur yang mendapat giliran membuka restoran ini, termasuk Negara Jepang, Taiwan, Singapura, dan Korea Selatan.

Pada tahun 2001 Burger King di Jepang tutup dikarenakan persaingan antar restoran yang ketat. Seperti yang kita ketahui bahwa saat itu restoran franchise sudah menjamur. Tidak heran kalau Burger King memang tertinggal oleh McDonalds yang sangat gencar dalam usaha mempromosikan produknya.

BURGER KING DI INDONESIA

Kemunculan restoran Burger King di Asia pada dekade 80-an rupanya juga merambah Indonesia . Burger King yang terkenal dengan flame-grilled beef burger-nya hanya dapat bertahan dalam beberapa waktu. Sumber yang saya dapat mengatakan bahwa Burger King hanya bertahan di tahun 1985 namun ada yang mengatakan pada tahun 90-an restoran ini masih memanjakan lidah para konsumennya.

Kendati telah memiliki pelanggan setia namun Burger King tidak dapat bertahan sehingga Indonesia tidak memiliki restoran khusus burger. Banyak dari pencinta Burger King rela ke luar negeri hanya untuk mendapatkan cita rasa yang unik dari Burger King. Cita rasa serta bentuk ukuran yang berbeda dengan restoran seperti McDonalds, Wendy’s, atau lainnya menjadikan salah satu faktor pemikat para konsumen.

Memang apabila dilihat dari segi bentuk burger, Burger King memang jauh lebih besar dan lebih tebal. McDonalds dan Wendy’s yang merupakan pesaing utama BK hingga sekarang mengalami penyusutan dalam segi ukuran produk. Entah sebagai penyesuaian terhadap proporsi orang Asia atau memang ada penyesuaian dengan kondisi ekonomi pada saat ini. Yang jelas dalam hal ukuran dan kenikmatan Burger King tidak kalah dibanding restoran yang menyajikan hidangan burger.

Ketika Burger King sempat menghilang selama beberapa tahun akhirnya pada tahun 2007 BK kembali dengan PT Sari Burger Indonesia sebagai pemegang lisensi Burger King dengan gerai pertamanya di Senayan City, Jakarta. Menurut Peter Tan (Presiden Burger King Asia Pasifik), Indonesia akan menjadi negara penting dalam perkembangan Burger King di dunia. Tidak hanya akan menambah jumlah gerai di seluruh Indonesia tetapi Burger King Indonesia juga akan meningkatkan mutu produk yang disajikan. Contohnya Whopper Sandwich yang merupakan menu klasik dari Burger King dan juga andalannya, produk ini tidak dibuat berbeda dengan yang aslinya walaupun hanya sausnya yang sedikit mengalami modifikasi. Restoran ini juga menawarkan hidangan pelengkap seperti kentang goreng dengan ukuran yang lebih tebal.

KESIMPULAN

Berdasarkan penjelasan tentang masuknya franchise di Indonesia serta sedikit contoh perkembangan tentang restoran Burger King kita dapat melihat bahwa usaha dengan sistem franchise di Indonesia sangat menjanjikan walaupun dengan persaingan yang ketat terutama di era 90-an hingga era 2000-an. Semakin banyak restoran menancapkan usahanya di Indonesia semakin menambah usaha masing-masing restoran untuk memperbaiki strategi promosi produk dan menjaga kualitas produk agar bisa bertahan. Seperti halnya McDonalds dan KFC yang masih terus bertahan hingga sekarang walaupun telah mengalami perubahan yang signifikan terutama dari segi ukuran dan rasa. Kini ukuran dari produk McDonalds dan KFC dapat dikatakan menyusut dari ukuran sebelumnya. Sementara itu Burger King yang baru muncul kembali setelah hilang pada era 90-an awal tetap mempertahankan ukuran yang lebih besar dan cita rasa yang tidak jauh berbeda dengan produk yang asli.

Usaha franchise ini dapat terus bertahan dengan adanya hubungan yang baik antara kedua belah pihak negara yang menyetujui. Indonesia dengan Amerika telah menjalin kerja sama yang cukup lama dan keduanya mendapat keuntungan masing-masing. Amerika mendapat keuntungan dari laba penerimaan lisensi sedangkan Indonesia juga mendapat keuntungan laba serta dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang banyak (mengurangi pengangguran).

Referensi

–         www.majalahfranchise.com

–         http://id.wikipedia.org/wiki/Waralaba

–         www.bizxpress.co.id

–         http://kertapati89.wordpress.com/2010/01/25/burger-king/

FRANCHISE

KELAS            : 1EB01

FAKULITAS   : Ekonomi Akuntansi

NAMA            : SUCIATI RUKMINI (26210711)

FUNGKY PRATIWI              (22210899)

VINA AFRYANI                  (28210375)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s