Ekonomi Rakyat Dan Kapitalisme di Indonesia

Sistem kapitalisme, “Current capitalism is indeed morally deficient,” kata DH Haslett dalam pengantar bukunya Capitalism with Morally (oxford, 1994). Buku ini ditunjukkan oleh judulnya yang sangat optimis bahwa memang ada sistem ekonomi yang bermoral. Kapitalisme yang bermoral mengandung ciri-ciri antara lain : unsur-unsur kekuasaan dipegang kaum pekerja atau kaum petani yang merupakan kelompok mayoritas, ada kuota atau batas-batas dalam pewarisan kekayaan dan ada upaya pembagian (kembali) pendapatan dan kekayaan nasional tanpa mengorbankan kebebasan (freedom). Disamping ada unsur-unsur yang kuat dari peranan kaum pekerja atau petani, sehingga tidak mudah dieksploitasi oleh kaum pemodal (kapitalis), dua ciri utama sistem ekonomi kapitalisme yang bermoral adalah :
1.sistem ekonomi yang tidak mentoleransi kemiskinan
2.sistem ekonomi yang mampu memberikan kesempatan berusaha yang sama pada semua warga negara
Adakah di dunia ini negara yang menganut sistem kapitalis yang sekaligus mampu menghapus kemiskinan ?. ekonomi rakyat adalah sebagian besar dari cara-cara rakyat bergumul dan bertahan untuk menjaga kelangsungan kehidupannya di pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan, dan perkebunan, dalam industri-industri kecil dan kerajinan, serta dalam perdagangan atau kegiatan “swadaya” lainnya, baik di daerah pedesan maupun di perkotaan. Ekonomi rakyat berciri substensi (tradisional), dengan modal utama tenaga kerja keluarga dan modal serta teknologi seadanya.
Pengertian ekonomi rakyat menjadi konsep penting setelah masuknya sistem ekonomi kapitalis ke Indonesia pertengahan abad ke-19, sesudah berlakunya UU Agraria 1870, yang diwarnai perkembangan perkebunan-perkebunan besar swasta Belanda setelah hapusnya sistem monopoli negara yaitu Tanam Paksa (1830-1870). Pemerintah penjajah mendirikan dinas-dinas pertanian rakyat, perkebunan rakyat, atau perikanan rakyat untuk melindungi usaha-usaha kecil atau gurem terhadap saingan yang memeatikan darai perusahaan-perusahaan besar milik pemodal asing. Pada tahun 1975 secara resmi diinstrksikan perkembangan sistem TRI (Tebu Rakyat Itensifikasi) yang ingin menjadikan petani sebagai tuan ditanahnya sendiri, agar kesejahteraan petani tebu meningkat. Konsep TRI ini terbukti gagal melindungi petani tebu kecil, karena pada saat yang sama pemerintah menizinkan masuknyasistem kapitalisme perkebunan dalam industri gula di Jawa. Dalam sistem kapitalisme pengusaha besar selalu memenamgkan persaingan dan perusahaan-perusahaan kecil termasuk petani tersingkir. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana diidam-idamkan oleh Pancasila, hanya dapat terwujud melalui pemihakan sepenuh hati pada (perkembangan) ekonomi rakyat.
Sumber: republika online 21 juli 1998, refrensi buku ekonomi SMA kelas 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s